Menlu Jerman Membutuhkan Pemerintahan Bersih dari Korupsi

menlu jerman

ADALACENTER.NET— Menteri Luar Negeri Jerman, Heiko Maas, mengatakan bahwa Lebanon memerlukan pemerintah yan bisa memerangi korupsi dan melegalkan reformasi.

Pernyataan  ini disa sampaikan ketika mengunjungi pelabuhan Beirut, daerahledakan dahsyat yang sudah memicu protes dan membikin pemerintah mundur.

Ledakan minggu lalu di sebuah gudang yang menaruh bahan yang benar-benar gampang meledak selama bertahun-tahun menewaskan sedikitnya 171 orang, melukai sekitar 6.000 orang, dan merusak beberapa Beirut.

“Tak mungkin semuanya berjalan seperti sebelumnya. Sosial internasional siap untuk berinvestasi tapi memerlukan sekuritas untuk investasi ini. Penting untuk mempunyai pemerintahan yang memerangi korupsi,” kata Maas, Rabu (12/8).

“Banyak warga di Eropa minat untuk negara ini. Mereka mau tahu bahwa ada reformasi ekonomi dan pemerintahan yang bagus. Siapa saja yang mengambil alih tanggung jawab di Lebanon mesti melaksanakan banyak hal,” kata Maas menambahkan.

Maas memberikan cek senilai lebih dari 1 juta euro sekitar Rp17,3 miliar terhadap Palang Merah Lebanon, komponen dari jumlah 20 juta euro (sepadan Rp347,3 miliar) bantuan kemanusiaan dari Jerman.

Bantuan kemanusiaan internasional sudah mengalir masuk tapi negara-negara asing sudah membeberkan bahwa mereka tak akan menulis cek kosong terhadap negara yang diperhatikan oleh rakyatnya sendiri sebagai negara yang benar-benar korup.

Para donor sedang mengupayakan dilegalkannya reformasi yang sudah lama dituntut dengan imbalan bantuan keuangan untuk menarik Lebanon dari kehancuran ekonomi.

Pengunduran diri pemerintahan Perdana Menteri Hassan Diab sudah menjerumuskan Lebanon ke dalam ketidakpastian yang lebih dalam. Pembicaraannya dengan Dana Moneter Internasional untuk dana talangan sudah ditunda sebab konflik antara pemerintah, bank, dan politisi perihal skala kerugian finansial yang besar.

Duduk di tengah puing-puing, warga Lebanon menyatakan rasa frustrasi mereka terhadap negara sebab meninggalkan mereka dalam keputusasaan mereka untuk membangun kembali rumah dan bisnis yang hancur pengaruh ledakan itu.

“Siapa yang tahu apa yang akan terjadi. Bagaimana kami akan kembali ke bisnis,” kata Antoinne Matta (74) yang kios brankas dan kuncinya rusak parah pengaruh ledakan itu. Lima karyawannya terluka.”Kami di Lebanon terbiasa dengan pemerintah yang tak mengerjakan apa-apa.”

Kerusuhan sudah meletus dengan warga Lebanon menyerukan peniadaan kelas penguasa secara besar-besaran yang mereka anggap bertanggung jawab atas kesengsaraan negara. Krisis keuangan sudah merusak mata uang, melumpuhkan bank, dan membikin harga-harga melonjak.

Para pejabat mengatakan ledakan itu dapat menyebabkan kerugian 15 miliar dolar AS (Rp 221,1 triliun), tagihan yang tak bisa dibayar Lebanon, mengingat kedalaman krisis keuangan yang telah membikin orang-orang membekukan rekening tabungan mereka semenjak Oktober di tengah kelangkaan dolar.

Bank sentral sudah menginstruksikan bank-bank lokal untuk memberikan pinjaman dolar tanpa bunga terhadap individu dan bisnis untuk koreksi penting, dan pada gilirannya akan memberikan pendanaan terhadap institusi keuangan itu.